Kampung Adat Kranggan, salah satu desa Sunda, menjadi bukti nyata bahwa tradisi budaya dapat berjalan selaras dengan modernisasi. Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggusur nilai-nilai tradisional, kekhawatiran akan lunturnya budaya bangsa terus menghantui. Namun, Kampung Adat Kranggan hadir sebagai oase yang menjaga nyala peradaban luhur di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Dengan segala keasriannya, kampung ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berdampingan secara harmonis.
Salah satu wujud nyata dari harmoni ini adalah Festival Wilejul Sumping, sebuah inisiatif dari Komunitas Bangun Kota yang berhasil menghidupkan kembali tradisi sekaligus melibatkan generasi muda Bekasi dalam melestarikan warisan budaya tak ternilai.
Festival Wilejul Sumping menyuguhkan berbagai pertunjukan yang memukau. Salah satunya adalah tarian Gegendeh, yang dibawakan oleh sekelompok ibu-ibu dengan iringan nyanyian merdu seorang abah. Penampilan ini menciptakan suasana syahdu yang penuh spiritualitas. Selain itu, dekorasi festival yang memadukan keindahan alam terbuka dengan sentuhan rumah adat Kranggan dan elemen modernitas semakin memperkaya pengalaman estetika para pengunjung. Acara ini tidak hanya menarik perhatian orang dewasa, tetapi juga mengundang antusiasme anak-anak untuk turut serta.
Momen puncak festival ini adalah peluncuran buku berjudul “Opat Mandahap Kalima Pancer”. Buku tersebut merupakan karya generasi muda Kranggan sebagai upaya nyata dalam melestarikan budaya lokal. Lebih dari sekadar karya sastra, buku ini diharapkan menjadi referensi berharga bagi generasi penerus dan bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah.
Semangat gotong royong Komunitas Bangun Kota dan keasrian Kampung Adat Kranggan menjadi inspirasi berharga untuk membangkitkan kembali rasa cinta terhadap budaya Nusantara. Mari kita lestarikan kekayaan budaya bangsa dengan menjaga tradisi yang tetap relevan di tengah modernisasi.
Bekasi, 28 Desember 2024
Kalaway Institute
#BersamaWujudkanHarmoni

